Suara Perempuan Desa (SPD) Bangun Kampung Pangan Mandiri

Suara Perempuan Desa (SPD) Bangun Kampung Pangan Mandiri

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Purwosari, Skalainfo.net| Griya Omah Kayu, Metro Batu Malang Raya, Skalainfo.net| Perjumpaan yang dipanggil dan di call oleh Alam Semesta Raya dan Sang Pencipta, dengan perantara R.T. Sudarno Hadipuro,

Ketua Paguyuban Tosan Aji *Sangga Braja* Kota Batu, Jawa Timur, diketemukanNya Mas Guntur Bisowarno Ketua ASJI Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia, 3 Juli 2020, dengan Mas Herman Aga, di saksikan Mas Rendra Rendra.

Mas Herman Aga, Bu Walikota Batu, Ibu Dewanti dan Mas Butet

Menggenapi dan men-sinergitas seluruh dan segenap panggilan jaman, Indonesia Lahir Baru, Jagad Renovasi Total 2020, berbasis Jamu Jamuan Perjamuan Agung Indonesia Lahir Baru Jagad Renovasi 2020.

Panggilan CALL Ingsun Alam Engsun Sedzati Gusti Sekalian Alam adalah; Gagasan sudah, sedang terjadinya Ejawantah Mengerjakan Sejarah, Peristiwa, Kisah dan Kejadian di bawah ini.

Mas Guntur Bisowarno dengan Mas Sudarno

Tercetus dalam angan; namun diawali oleh tindakan, begitu kuat hasyrat para kaum Suara Perempuan Desa (SPD) dalam menyikapi perkembangan (era) pandemic covid 19, mengubah kembali suatu kebiasaan yang dahulu telah dilakukan oleh para Leluhur dalam kemandirian, me-mamfaatkan ramuan serta tumbuhan yang ada di Alam Manusantara Indonesia Raya ini dari kita untuk kita; maka terbentuk lagi Kampung Pangan Mandiri, Jawa Timur, Jum’at, 3/6/2020.

Dalam renungan pagi ini, Salma Savitri Rahayaan; Saya membayangkan, suatu hari nanti anggota Suara Perempuan Desa (SPD) akan menjadikan tempat tinggalnya sebagai “Kampung Mandiri Pangan” (urban parkming).

Apa itu…? Sebuah kampung dimana sumber pangan dihasilkan sendiri. Warga menaman sayur, buah, mpon-mpon di pekarangan. Ada berbagai ikan air tawar yang dipelihara di sekitar rumah.

“Sayur atau buah ditanam dalam polybag atau pot, jika tak punya pekarangan luas”. Kemudian; menanam padi mungkin tidak mudah. Sebab sawah untuk menanam padi di Kota ini sudah makin sempit.

Membuat Pupuk Nutrisi Media

Produksinya hanya memenuhi 20-25%, kebutuhan beras warga Kota Batu. Namun sumber karbohidrat bisa diperoleh juga dari tanaman singkong atau puhung, ubi rambat, keladi, bentul, jagung dan lain-lain.

Semoga saja gagasan ini mau mengembalikan gaya hidup yang dilakukan kakek dan nenek kami di Desa ini puluhan tahun silam. Kala itu, jika hendak masak, Ibu-ibu memetik sayur, bumbu-bumbu dan mengambil ikan yang tersedia di pekarangan. Semua ditanam dan dipelihara tanpa pestisida kimia, semua alami dan ramah lingkungan.

Meski wilayah ini menghasilkan sayur dan buah dalam jumlah besar, semuanya ditanam menggunakam pupuk kimia, yang merusak tanah dan membahayakan kesehatan. Dan sebagian besar hasilnya dijual, malah sering tidak untuk dikonsumsi kami sehari-hari.

Mas Sudarno dengan Cak Sujiwo Tejo

“Pola konsumsi masyarakat kurang sehat, kurang konsumsi pangan bergizi, meski hidup di lumbung pangan”. Itu sebabnya, ada 28,5% balita Stunting di Kota Batu. Itu data sebelum Pandemic lho… Gak tahu lagi sekarang. Duh….sangat memperihatinkan terhadap masyarakat, sayur dan buah-buahan memakai pupuk bahan kimia, lanjut Salma.

Beberapa individu dikampung sini sudah memulai gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi sayur atau pangan organik yang ditanam sendiri. Ini harus diperluas dengan menjadikannya gaya hidup komunitas.

Mulai dari satu RW. Dan tiap RT menanam 2-3 jenis sayuran berbeda. Jika dalam satu RW ada 10 RT, maka akan ada 20 hingga 30-an jenis sayuran, bumbu, atau tanaman lain. Lalu saling tukar atau (barter) untuk mengkonsumsi bermacam jenis sayuran tiap hari.

Kelebihan produksi sayur atau buah yang tidak habis dikonsumsi, diolah atau dijual untuk menambah income keluarga. Juga untuk modal proses menanam berikutnya.

Untuk penjualan sayur dalam polybag, Suara Perempuan Desa (SPD) bekerjasama dengan Baru Sehat Berdaya (BSB) colek pak Direktur BSB, pak Herman Aga, tambahnya.

Sumber pangan alami adalah syarat bagi kehidupan yang sehat. Jika semua kampung mandiri dalam pemenuhan pangan alami, rakyat hidup lebih sehat dan sejahtera, ucap Salma Savitri Rahayaan.

Pada hari Senin, 29/6/2020 anggota (SPD) yang dipelopori Ibuk Salma, SR menyambangi untuk belajar ke Bangun Lingkungan (Baling 03) Komunitas warga Desa Pesanggrahan Kota Batu yang membangun pangan mandiri.

Ada kolam lele, bisa panen tiap minggu mencapai 20-25 kg. Ada log jamur tiram, bisa panen 5-6 kg, per-minggu. Ada aneka jenis sayuran yang ditanam di pollybag. “Konsepnya NO limbah, No Sampah dan NO Kimia”.

Untuk merawat tanaman digunakan POC, yang dihasilkan dari air jeroan Lele yang sudah dibersihkan, juga dari sampah organik rumah tangga. Termasuk air cucian beras yang difermentasikan. Bekas log jamur digunakan sebagai media tanam sayur. Bahkan pot tanaman ada yang dari limbah pempers. Ikhtiar merawat alam.

Mari bermimpi  mewujudkan dan mengerjakan secara ajeg, konsistens dan persistence kampung  mandiri pangan. Dimulai oleh anggota Suara Perempuan Desa (SPD) di Desa Sumberejo, Gunungsari dan Bulukerto, Jawa Timur.

Salma Savitri Rahayaan, Pendiri dan Ketua Dewan Pengawas Suara Perempuan Desa SPD, Organisasi Perempuan yang didirikan di Desa Gunungsari Kota Batu, 21 April 2008, bertujuan untuk memperjuangkan hak perempuan desa, khususnya hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial dan hak budaya. (Red/Guntur. BW).

Penulis : Salma, Savitri Rahayaan


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Budaya Fokus Openi Bukan Opini Terkini