• September 18, 2021

(TAUSHIYAH SINGKAT LIMA MENIT) “MARILAH MENEBAR SALAM”


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَلسَّــلاَمُ عَـلَـيْـكُمْ وَرَحْـمَـةُ اللَّهِ وَبَـرَكَاتُـهُ

Skalainfo| Seseorang tidak akan masuk surga, jika tidak beriman. Salah satunya tanda keimanan itu adalah mencintai orang lain (saudara muslim). Terus, bagaimana cara mencintai itu ?

Tentu, banyak cara, yaitu banyak melakukan perbuatan kebaikan kepada orang lain. Rasulullah memberi petunjuk, bagaimana cara sesama saudara muslim saling mencintai dengan suatu perbuatan, yaitu dengan menebar salam sesamanya, sebagaimana dari ‘Abu Hurairah Ra’, berkata : “Rasulullah SAW. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan dapat masuk surga sebelum kalian saling mencintai. Maukah kalian saya tunjukkan suatu perbuatan yang apabila kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai!!! Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Apakah benar salam bisa menyebabkan orang saling mencintai?. Benar demikian, tentu ketetapan Allah akan di ikuti dengan tuntunan-Nya. Lahiriahnya, bahwa dengan ucapan salam, berarti,-orang yang mengucapkan (memberi) salam pertama kali adalah orang yang merendahkan hatinya (tidak sombong).

Bukankah orang yang rendah hati mendapatkan kemuliaan dari orang-orang sekitarnya ? Dan’ orang yang diberi ucapan salam, akan merasa tersanjung (dihormati dan dihargai), dan membalas dengan ucapan salam pula. Bukankah orang yang tersanjung merasa senang?.

Bertemunya, orang yang rendah hati (menebar salam pertama) dengan orang yang tersanjung (membalas menebar salam pula) akan melahirkan kedekatan di antara mereka, apalagi dalam waktu tertentu (lama). Kedekatan, akan membawa mereka saling melakukan kebaikan di antara mereka, apalagi dalam suka dan duka. Dan, akhirnya mereka saling mencintai sesamanya (saudara muslim).

“MARILAH SELALU MENEBAR SALAM SESAMA SAUDARA MUSLIM”!

Demikian “Taslim” yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat, Amiin. ☘ Wassalam. (Red/Lembaga Surau Indonesia).